Dian Pelangi Di Ajang International Fair of the Moslem World 2011


Information

Indonesia layak menjadi kiblat muslim dunia. Inilah catatan penting di penghujung 2011 yang datang dari pengalaman desainer muda Diandra Wahyu Utami (20) atas keterlibatannya di International Fair of the Moslem World 2011 di Le Bourget, Paris, Perancis, 14-19 Desember 2011 lalu.

Kepercayaan diri ini didasari atas fakta bahwa busana muslim rancangan desainer Indonesia, mendapat sambutan meriah sekaligus apresiasi dari masyarakat Eropa, di Paris khususnya. Rupanya, busana muslim kreasi desainer ternama tak hanya memukau di kalangan pecinta mode Indonesia sepanjang 2011. Rancangan busana muslim Indonesia dianggap paling fashionable namun tetap sesuai pakem berbusana muslim.

Sambutan meriah
Desainer yang populer dengan nama Dian Pelangi ini menjelaskan, pengunjung pameran kebanyakan adalah orang Arab yang tinggal di Paris, seperti dari Tunisia, Morocco, Turki, Mesir, Yordania sampai Lebanon. Selain juga masyarakat Paris itu sendiri, juga beberapa dari negara tetangganya seperti Italia, Spanyol, Jerman.

“Respons terhadap rancangan busana muslim Indonesia bagus sekali, baik di pameran ataupun di fashion show. Mereka takjub dengan busana muslim Indonesia, termasuk cara berkerudung muslimah Indonesia dengan gaya unik dan menarik. Saat fashion show, responsnya juga luar biasa. Ketika baju pertama keluar dari Indonesia, disambut dengan riuh tepuk tangan dan bahkan standing applause. Mereka salut karena memang busana muslim Indonesia yang paling fashionable tapi tetap sesuai syariat,” jelas Dian kepada Kompas Female melalui surat elektronik sepulang dari Paris.

Dian tak datang sendiri membawa koleksi busana muslim buatan Indonesia di ajang bergengsi di Eropa ini. Dipayungi oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), Dian mewakili Indonesia mengenalkan busana muslim di Eropa bersama desainer ternama lainnya seperti  Nunik Mawardi, Anne Rufaidah, Monica Jufry, Najua Yanti, Hannie Hananto, Irna Mutiara, Nieta Hidayani, Malik Moestaram dan Boyonz Ilyas. Desainer Amy Atmanto juga ditunjuk pemerintah untuk turut mengenalkan busana Indonesia di ajang fashion muslim di Paris ini. Tak ketinggalan, turut mendampingi, Eka Shanty yang giat menggaungkan misi Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia melalui Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC).

Warna baru dari Indonesia
Selain desainer Indonesia, 10 desainer Paris juga menghadirkan koleksi busana muslim di ajang fashion ini.  Menurut Dian, rancangan busana muslim desainer Paris ini wearable dan kasual. “Desainnya bagus dan harganya relatif murah sehingga bisa masuk di semua kalangan,” kata Dian mengamati fashion muslim Eropa.

Indonesia hadir memberikan sentuhan berbeda dalam fashion muslim, terutama penggunaan material yang istimewa, seperti kain tradisional khas nusantara. “Desain Indonesia juga sangat menarik, pastinya memberi warna baru dalam muslim fashion dunia,” lanjut perancang busana asal Palembang yang dipilih sebagai penampil pembuka di ajang peragaan busana muslim Paris ini.

Paris sebagai salah satu kiblat fashion dunia, ditinggali para pecinta mode yang tentunya melek tren. Warna terang menyala yang menjadi tren 2011 lalu rupanya digemari masyarakat setempat. Alhasil, tak sulit bagi busana muslim Indonesia, terutama rancangan Dian Pelangi, yang dikenal berani bermain warna, untuk menggaet perhatian penggemar mode di Paris.

“Kalau orang Arab cenderung menyukai warna gelap karena mereka memang seringkali diharuskan menggunakan baju gelap seperti hitam atau abu abu. Tapi orang Paris lebih suka busana berwarna cerah dan unik, malah cenderung suka warna yang agak shocking,” jelas Dian.

Koleksi busana Dian Pelangi yang juga ditampilkan di pekan mode Jakarta Fashion Week 2012 November lalu juga diminati penggemar mode di Paris. Pasalnya, pendiri Hijabers Community ini lebih banyak membawa busana bermodel coat. Kejelian melihat kebutuhan pasar membuat coat rancangannya laris manis di Paris. “Karena memang di sana sedang musim dingin dan coat saya hampir sold out,” tambahnya.

.

Antusiasme masyarakat Eropa terhadap busana muslim Indonesia terlihat dari transaksi belanja di pameran. Dari pengalaman Dian, ia tak membawa pulang rancangan busana model abaya, gamis dan kaftan karyanya lantaran habis tak tersisa selama pameran di Paris. “Hari pertama pameran sudah laku banyak. Hari kedua orang datang lagi dan kecewa karena busana sudah habis,” ungkap Dian yang sempat merasa menyesal tak dapat membawa banyak koleksi lantaran terbentur pembatasan kapasitas bagasi.

Sambutan positif masyarakat Eropa, khususnya di Paris, atas busana muslim Indonesia tentunya tak datang begitu saja. Rupanya, sejumlah nama desainer Indonesia ternama di sana. Fakta ini semakin menguatkan kepercayaan diri untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat fashion muslim dunia. “Saya rasa sudah pantas lah Indonesia menjadi pusat fashion muslim dunia. Namun mungkin keinginan pasar agar busana muslim Indonesia lebih murah harganya agar dapat dipakai sehari-hari maupun untuk busana pesta, busana yang lebih wearable,” tuturnya.

Indonesia tak hanya menghadirkan busana muslim yang kreatif, unik, dan berkarakter khas. Cara perempuan Indonesia berkerudung juga menjadi perhatian dunia, setidaknya di Paris, sebagai kota referensi fashion. Termasuk cara berkerudung Dian dengan gayanya yang unik dan menarik seperti turban atau model lilit. Alhasil, “kursus” singkat pun digelar.  Dian mengaku kerap diminta mempraktikkan gaya kerudung model lilit. Tak tanggung-tanggung, 10 gaya berkerudung ala anak muda Indonesia ini diperagakan Dian untuk memenuhi rasa ingin tahu pengunjung pameran.

Permintaan untuk memeragakan gaya berkerudung juga kerap ditemui Dian di luar area pameran. “Selama di Paris, saya juga sering bertemu dengan non muslim yang tertarik dengan busana saya. Misalnya ketika sedang berjalan-jalan di sekitar menara Eiffel atau Champs Elysees, kerap kali orang memperhatikan kerudung saya, bahkan banyak yang sengaja meminta saya untuk mempraktikkan cara memakai kerudung yang saya pakai,” aku Dian yang mengaku terbantu berkomunikasi berbahasa Perancis dengan masyarakat setempat dengan dukungan mahasiswa Indonesia dan pihak kedutaan Indonesia di Paris.

Sumber : http://female.kompas.com
Foto Courtessy : dianrainbow.blogspot.com
Catatan : Untuk Warna-warna pada Foto Stock tidak bisa 100% sama persis sesuai aslinya dikarenakan oleh berbagai faktor seperti color profile kamera, pencahayaan saat pengambilan foto, value brightness dan contrass masing-masing monitor yang tidak sama. Harap Maklum :)
Another More :